GEOMAGNET
Geomagnet adalah salah satu metode Geofisika, metode ini bersifat spontan karena dapat mendeteksi benda-benda magnetik di bawah tanah. Pengukuran tidak langsung di dalam tanah melainkan hanya melakukan pengukuran di atas permukaan. Untuk melakukan penyelidikan atau eksplorasi diharapkan dapat :
a. Memahami prinsip kerja alat ukur
magnetic ( yaitu G – 816 dan G-856 )
b. Mengerti cara pengambilan data
geomagnetik dan pengolahannya
c. Memperkirakan secara kualitatif
dari benda-benda penyebab anomali.
Agar hasil pengolahan data tampil lebih baik maka pengolahan
data dibantu dengan program Surfer, sedangkan cara untuk interpretasi biasanya hanya
kualitatif, dimana harus memahami
terlebih dahulu tentang peta IGRF (International Geomagnetic Reference Field).
Dalam IGRF ini disajikan 3 peta kontur yang berlaku secara International dan
khusus Indonesia dibuat oleh PUSLITBANG Geologi Bandung. Peta-peta tersebut
adalah :
1. Peta kontur Intensitas magnetic total ( Yogyakarta+
45.600 g)
2. Peta Kontur Inklinasi ( Indonesia – 40
s/d – 350)
3. Peta kontur
Deklinasi ( Indonesia hampir 00 )
Berdasarkan peta (Intensitas magnetik total), jika hasil pengukuran
geomagnet menunjukkan penyimpangan terhadap harga intensitas magnetic total
berarti ada anomali, dan harga anomali berdasarkan peta inklinasi dan deklinasi
adalah positif di Utara dan negatif di Selatan.
Jadi dalam tulisan ini akan dibahas tentang bagaimana memperoleh harga DT ( Anomali magnetik yang telah dikoreksi) kemudian cara
penggambaran dengan menggunakan program, dan akhirnya metoda interpretasi yang
digunakan, yaitu apabila ada anomali positif di Utara dan anomali negatif di
Selatan berarti ada benda magnetik dibawahnya.
Please Wait...
Bila bumi tersusun dari bahan yang
mempunyai kemagnetan homogen dan berbentuk bundar, maka garis-garis gaya
kemagnetan akan melintas secara ideal dari satu kutub magnet kekutub magnet
yang lain. Akan tetapi bentuk bumi tidak bundar,
mengalami pemipihan pada kedua kutubnya. Disamping itu susunan bahannya pun
tidak homogen, kenyataan ini mengakibatkan perubahan-perubahan pada garis gaya
kemagnetan, perubahan ini berupa penyimpangan-penyimpangan yang dengan mudah
dapat diamati di permukaan bumi dan selanjutnya penyimpangan ini disebut
Anomali Geomagnet.
Penyebab utama penyimpangan medan magnet
utama yang menghasilkan anomali magnetik lokal ini ialah karena perbedaan komposisi
mineral yan bersifat magnetik atau benda magnetik lainnya yang berada di dekat
permukaan. Untuk hasil pengukuran yang memberikan
harga lebih besar atau lebih kecil dari T tersebut yang dinamakan anomali dan
nilai dari anomali ini tampak jelas setelah dilakukan konturing (dibuat
konturnya), sehingga ada klosur yang
membentuk puncak (positif) dan klosur yang berbentuk lembah (negatif)
antara puncak positif dan negatif ini terdapat benda penyebab anomali magnetik
lokal.